Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4938| Title: | PENGARUH FREKUENSI PENYIRAMAN DAN DOSIS MULSA SEKAM PADI BAKAR (BIOCHAR) TERHADAP PERTUMBUHAN TAJUK BIBIT KARET (Hevea brasiliensis) KLON RRIC 100 ASAL SEMAIAN |
| Authors: | Duha, Rifaldi |
| Keywords: | Pembibitan, Frekuensi, Mulsa, Biochar, Klon dll. |
| Issue Date: | 20-Nov-2025 |
| Publisher: | Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara |
| Series/Report no.: | UISU250544;71210713051 |
| Abstract: | Bibit karet (Hevea brasiliensis) merupakan komoditas perkebunan strategis di Indonesia, dengan klon IRRC 100 menjadi salah satu varietas unggul karena produktivitas lateks dan adaptasi terhadap lingkungan tropis. Pertumbuhan tajuk bibit karet pada fase semaian sangat krusial karena menentukan kesiapan bibit untuk ditransplantasikan ke lapangan. Namun, pertumbuhan optimal bibit karet sering terhambat oleh faktor lingkungan, terutama ketersediaan air dan kualitas media tanam. Di daerah dengan iklim kering atau musim kemarau panjang, frekuensi penyiraman yang tidak tepat dapat menyebabkan stres air, menghambat perkembangan daun, dan mengurangi kerapatan stomata yang merupakan faktor kunci dalam efisiensi fotosintesis. Di sisi lain, penyiraman berlebihan berisiko menyebabkan genangan yang merusak perakaran. Penggunaan mulsa organik, seperti sekam padi bakar (biochar), menjadi solusi potensial untuk meningkatkan retensi air tanah dan mengurangi evaporasi. Biochar sekam padi bakar memiliki porositas tinggi, mampu menyerap air 3-5 kali lipat dari bobotnya, serta memperbaiki struktur tanah. Namun, dosis aplikasi sekam padi bakar sebagai mulsa perlu dioptimalkan karena dosis berlebihan dapat mengubah pH tanah atau menghambat pertumbuhan akar. Pada bibit karet, kombinasi antara frekuensi penyiraman dan dosis sekam padi bakar sebagai mulsa belum banyak diteliti, padahal interaksi kedua faktor ini dapat memengaruhi keseimbangan air tanah, ketersediaan nutrisi, dan perkembangan tajuk bibit karet. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui frekuensi penyiraman yang tepat terhadap pertumbuhan tajuk (jumlah daun, total luas daun, tinggi bibit, dan diameter batang) serta morfologi dan fisiologi (jumlah stomata, kerapatan stomata dan Kandungan Air Relatif daun) bibit karet klon RRIC 100 asal semaian; (2) mengetahui dosis mulsa sekam padi bakar (biochar) yang tepat terhadap pertumbuhan tajuk (jumlah daun, total luas daun, tinggi bibit, dan diameter batang) serta morfologi dan fisiologi (jumlah stomata, kerapatan stomata dan Kandungan Air Relatif daun) bibit karet klon RRIC 100 asal semaian; dan (3) mengetahui kombinasi frekuensi penyiraman dengan mulsa sekam padi bakar (biochar) yang tepat terhadap pertumbuhan tajuk (jumlah daun, total luas daun, tinggi bibit, dan diameter batang) serta morfologi dan fisiologi (jumlah stomata, kerapatan stomata dan Kandungan Air Relatif daun) bibit karet klon RRIC 100 asal semaian. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dua faktor perlakuan yang disusun dalam tiga ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Frekuensi penyiraman (F) yang terdiri dari dua taraf, yaitu: frekuensi penyiraman 7 hari sekali (F1), dan 15 hari sekali (F2). Faktor kedua sebagai anak petak adalah Sekam padi bakar (biochar) (K) yang terdiri dari empat taraf, yaitu: 0 g/polybag (K0), 5 g/polybag (K1), 10 g/polybag (K2), dan 15 g/polybag (K3). Variabel yang diamati adalah pertambahan pertumbuhan tajuk bibit karet (tinggi bibit, diameter batang, jumlah daun, dan total luas daun) yang diamati pada 0, 21, 42, dan 63 HSP. Kemudian diamati juga jumlah dan kerapatan stomata serta KAR daun pada 63 HSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Frekuensi penyiraman (7, 15 hari sekali) dan sekam padi bakar sebagai mulsa dalam berbagai dosis (0, 5, 10, 15 g/polybag) serta kombinasi antara kedua perlakuan belum mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan pertumbuhan tajuk (tinggi bibit, diameter batang, jumlah daun, dan total luas daun) bibit karet klon RRIC 100 asal semaian pada 21-0 HSP, 42-21 HSP, dan 63-42 HSP. Frekuensi penyiraman (7, 15 hari sekali), sekam padi bakar sebagai mulsa dalam berbagai dosis (0, 5, 10, 15 g/polybag) serta kombinasi antara kedua perlakuan mampu memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah dan kerapatan stomata serta KAR daun bibit karet klon RRIC 100 asal semaian pada 63 HSP. Frekuensi penyiraman 7 hari sekali (F1) mampu menghasilkan jumlah, kerapatan stomata serta KAR daun tertinggi dibandingkan perlakuan frekuensi penyiraman 15 hari sekali (F2), yaitu berturut-turut sebesar 17,25, 7,26/mm2, dan 108,51%. Dosis sekam padi bakar sebagai mulsa (K) bervariasi dalam mempengaruhi jumlah, dan kerapatan stomata serta KAR daun bibit karet. Jumlah dan kerapatan stomata terbanyak dijumpai pada perlakuan dosis sekam padi bakar sebagai mulsa 10 g/polybag (K2), yaitu berturut-turut sebanyak 19,00 stomata dan 8,00/mm2. KAR daun tertinggi dijumlai pada perlakuan tanpa sekam padi bakar sebagai mulsa (K0), yaitu 112,07%. Kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 15 hari sekali dengan dosis sekam padi bakar sebagai mulsa 10 g/polybag (F2K2) menghasilkan jumlah dan kerapatan stomata serta KAR daun bibit karet tertinggi, yaitu berturut-turut 22,00 stomata, 9,26/mm2, dan 118,92%. Kata Kunci : Pembibitan, Frekuensi, Mulsa, Biochar, Klon dll. |
| URI: | http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4938 |
| Appears in Collections: | Agroteknologi |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| Cover, Bibliography.pdf | Cover, Bibliography | 757.33 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Abstract.pdf | Abstract | 216.39 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter I,II.pdf | Chapter I,II | 234.37 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter III,IV,V.pdf Restricted Access | Chapter III,IV,V | 580.8 kB | Adobe PDF | View/Open Request a copy |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.