Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4903| Title: | PENGARUH FREKUENSI PENYIRAMAN DAN JENIS MULSA GULMA TERHADAP PERAKARAN BIBIT KARET ASAL SEMAIAN KLON RRIC 100 YANG DI TANAM PADA TANAH SUB OPTIMAL |
| Authors: | Pamungkas, Hendry |
| Keywords: | Karet, Akar, Mulsa gulma, Frekuensi penyiraman, Kombinasi perlakuan. |
| Issue Date: | 20-Nov-2025 |
| Publisher: | Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara |
| Series/Report no.: | UISU250534;71210713012 |
| Abstract: | Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditas perkebunan strategis yang berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, budidaya karet seringkali dihadapkan pada tantangan penggunaan lahan marginal yang memiliki karakteristik fisik dan kimia tanah suboptimal, seperti rendahnya kesuburan, kandungan bahan organik yang minim, serta daya retensi air yang buruk. Media tanam marginal tersebut berdampak negatif terhadap pertumbuhan bibit karet, terutama pada sistem perakaran yang menjadi fondasi utama dalam penyerapan hara, stabilitas tanaman, dan ketahanan terhadap stres lingkungan. Minimnya penelitian terpadu yang mengkombinasikan frekuensi penyiraman dan jenis mulsa gulma untuk mendukung pertumbuhan bibit karet di media marginal menjadi celah akademis dan praktis yang perlu diatasi. Pertama, optimasi frekuensi penyiraman bertujuan mempertahankan kelembaban media yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis bibit, sehingga menghindari stres air sekaligus mencegah genangan yang merusak perakaran. Kedua, pemanfaatan gulma sebagai mulsa organik diharapkan dapat memperbaiki sifat fisikokimia media tanam, seperti meningkatkan porositas tanah, mengurangi evaporasi, dan menyuplai nutrisi melalui dekomposisi. Kombinasi kedua faktor ini diduga mampu menciptakan lingkungan rizosfer yang mendukung elongasi akar, pembentukan akar lateral, serta akumulasi biomassa akar. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyiraman terhadap pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran bibit karet pada media tanam marjinal, (2) untuk mengetahui pengaruh jenis mulsa gulma terhadap pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran bibit karet pada media tanam marjinal, dan (3) untuk mengetahui pengaruh kombinasi frekuensi penyiraman dan jenis mulsa gulma terhadap pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran bibit karet pada media tanam marjinal. Penelitian ini menggunakan rancangan petak terpisah (RPT) dalam rancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 3 kali. Faktor pertama adalah frekuensi penyiraman (F) sebagai petak utama yang terdiri dari 3 taraf, yaitu: frekuensi penyiraman 5 hari sekali (F1), frekuensi penyiraman 10 hari sekali (F2), dan frekuensi penyiraman 15 hari sekali (F3). Faktor kedua adalah jenis mulsa gulma (G) sebagai anak petak yang terdiri dari 4 taraf, yaitu tanpa mulsa (G0), jenis mulsa gulma A. gangetica (G1), jenis mulsa gulma P. conjugatum (G2), dan jenis mulsa gulma N. biserrata (G3). Variabel yang diamati adalah total Panjang akar, luas permukaan akar, diameter akar, distribusi sistem perakaran, dan Nisbah akar tajuk. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (uji F) dan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5% apabila perlakuan berpengaruh nyata terhadap variabel pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran bibit karet klon RRIC 100. Frekuensi penyiraman 5 hari sekali (F1) menghasilkan total Panjang akar, luas permukaan akar dan diameter akar yang lebih besar dibandingkan frekuensi penyiraman 10 hari sekali (F2), dan 15 hari sekali (F3). Jenis mulsa gulma yang diberikan dalam penelitian juga berpengaruh nyata terhadap sistem perakaran bibit karet klon RRIC 100. Jenis mulsa gulma P. conjugatum (G2) menghasilkan total Panjang akar dan luas permukaan akar terpanjang dan terluas dibandingkan perlakuan jenis mulsa gulma lainnya, yaitu berturut-turut sebesar 31,72 m dan 18,04 m2, tetapi menghasilkan diameter akar terkecil, yaitu 0,28 cm. Kombinasi frekuensi penyiraman dan jenis mulsa gulma juga berpengaruh nyata terhadap sistem perakaran bibit karet klon RRIC 100. Kombinasi perlakuan terbaik adalah kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 5 hari sekali dengan jenis mulsa gulma P. conjugatum (F1G2) dengan total panjang akar dan luar permukaan terpanjang dan terluas, yaitu berturut-turut 69,11 m dan 29,46 m2. Distribusi sistem perakaran bibit karet klon RRIC 100 terbaik dengan pola penyeabaran merata di setiap kedalaman profil tanah dijumpai pada kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 5 hari sekali dengan jenis mulsa gulma P. conjugatum (F1G2). Nisbah akar-tajuk hanya dipengaruhi secara nyata oleh kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman dan jenis mulsa gulma, dengan nilai Nisbah akar-tajuk tertinggi dijumpai pada kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 5 hari sekali dengan jenis mulsa gulma A. gangetica (F1G1), kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 15 hari sekali tanpa mulsa (F3G0), dan kombinasi perlakuan frekuensi penyiraman 5 hari sekali dengan jenis mulsa gulma P. conjugatum (F1G2), yaitu berturut-turut sebesar 0,67, 0,66, dan 0,65. Kata kunci : Karet, Akar, Mulsa gulma, Frekuensi penyiraman, Kombinasi perlakuan. |
| URI: | http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4903 |
| Appears in Collections: | Agroteknologi |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| Cover, Bibliography.pdf | Cover, Bibliography | 1.76 MB | Adobe PDF | View/Open |
| Abstract.pdf | Abstract | 17.66 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter I,II.pdf | Chapter I,II | 238.24 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter III,IV,V.pdf Restricted Access | Chapter III,IV,V | 2.12 MB | Adobe PDF | View/Open Request a copy |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.