Please use this identifier to cite or link to this item:
http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4786| Title: | PENGARUH APLIKASI MULSA DARI BEBERAPA JENIS GULMA DAN FREKUENSI PEMBERIAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET KLON RRIC 100 |
| Authors: | Widayanti, Ade Irma |
| Keywords: | Bibit karet, Frekuensi penyiraman, Mulsa, RRIC 100, Gulma. |
| Issue Date: | 20-Nov-2025 |
| Publisher: | Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara |
| Series/Report no.: | UISU250301;71210713004 |
| Abstract: | Tanaman karet (Hevea brasiliensis) merupakan komoditas perkebunan strategis di Indonesia. Namun, produktivitasnya masih rendah akibat tantangan seperti manajemen air yang tidak optimal dan persaingan dengan gulma. Ketersediaan air menjadi faktor kritis dalam fase pembibitan, terutama di musim kemarau, sementara gulma sering dianggap sebagai pengganggu yang menghambat pertumbuhan. Ketersediaan air yang tidak mencukupi menyebabkan penurunan ketersediaan unsur hara dan kelarutan unsur hara dalam tanah. Dengan demikian, pengangkutan nutrisi ke jaringan tanaman juga akan lebih rendah. Air berperan penting pada proses translokasi unsur hara dari akar ke seluruh bagian tanaman, kekurangan air akan berakibat pada penurunan proses fotosintesis, sehingga mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat. Penggunaan mulsa organik, termasuk gulma, menjadi solusi potensial untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan gulma kompetitor. Gulma seperti Paspalum conjugatum, Nephrolepis biserrata, dan Asystasia gangetica memiliki kemampuan retensi air tinggi, tetapi efek alelopatinya belum banyak diteliti. Selain itu, klon RRIC 100 dipilih karena potensi adaptasinya terhadap cekaman lingkungan, namun responsnya terhadap kombinasi mulsa gulma dan frekuensi penyiraman masih belum jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk: (1) mengetahui pengaruh jenis mulsa gulma terhadap pertumbuhan bibit karet klon RRIC 100; (2) mengetahui pengaruh frekuensi pemberian air terhadap pertumbuhan bibit karet klon RRIC 100; (3) mengetahui kombinasi antara kedua perlakuan terhadap pertumbuhan bibit karet klon RRIC 100. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dua faktor perlakuan yang disusun dalam tiga ulangan. Faktor pertama sebagai petak utama adalah Frekuensi Penyiraman Air (F) yang terdiri dari tiga taraf, yaitu: 5 hari sekali disiram (F1), 10 hari sekali disiram (F2), dan 15 hari sekali disiram (F3). Volume air penyiraman 900 mL/polybag yaitu 75% dari volume kapasitas lapang sebesar 1200 mL dengan ukuran polibag 12 cm x 17 cm. Faktor kedua sebagai anak petak adalah Jenis Gulma (G) yang terdiri dari empat taraf, yaitu: tanpa mulsa gulma (G0), mulsa gulma Asystasia gangetica (G1), mulsa gulma Paspalum conjugatum (G2), dan mulsa gulma Neprolepis biserrata (G3). Variabel yang diamati adalah pertambahan pertumbuhan tajuk (jumlah daun, luas daun, tinggi bibit, diameter batang) pada 0, 21, 42, dan 63 hari setelah perlakuan (DAT), jumlah stomata, kerapatan stomata, dan kandungan air relative (KAR) daun. Pertumbuhan pertambahan tajuk (jumlah daun, luas daun, tinggi bibit, diameter batang) bibit karet klon RRIC 100 tidak dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan frekuensi pemberian air, mulsa gulma, serta kombinasi antara kedua perlakuan. Jumlah stomata, kerapatan stomata, dan KAR daun bibit karet klon RRIC dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan frekuensi penyiraman, mulsa gulma, dan kombinasi antara kedua perlakuan. Perlakuan frekuensi penyiraman 5 hari sekali (F1) mampu meningkatkatkan jumlah dan kerapatan stomata. Frekuensi penyiraman 10 hari sekali (F2) merupakan pemberian air yang optimum bagi bibit karet dengan media tanam yang mengandung liat tinggi dengan nilai KAR sebesar 91,91%, karena KAR yang optimal biasanya berkisar antara 80-90% pada sebagian besar spesies tanaman. Perlakuan mulsa gulma P. conjugatum (G2) meningkatkan jumlah dan kerapatan stomata karena kemampuannya menjaga kelembaban tanah, minimnya efek alelopati, serta pelepasan nutrisi mikro selama dekomposisi. Walaupun KAR daun dipengaruhi secara nyata oleh perlakuan mulsa gulma, namun nilai KAR daun untuk semua perlakuan mulsa gulma berkisar pada KAR optimum, yaitu 80-90%. Kombinasi frekuensi penyiraman 5 hari sekali dengan mulsa P. conjugatum (F1G2) meningkatkan jumlah dan kerapatan stomata melalui mekanisme retensi air, dekomposisi nutrisi, dan reduksi stres abiotik. Sebaliknya, penyiraman 15 hari sekali tanpa mulsa (F3G0) menurunkan jumlah dan kerapatan stomata. Berdasarkan nilai NTA bibit karet yang didapatkan dengan pemberian frekuensi penyiraman dan mulsa gulma menunjukkan bahwa bibit karet siap untuk dipindahkan ke lapangan karena nilai NTA bibit karet berkisar antara 1-3 yang mengindikasikan bahwa jumlah akar yang dimiliki telah mencukupi untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Kata Kunci: Bibit karet, Frekuensi penyiraman, Mulsa, RRIC 100, Gulma. |
| URI: | http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/4786 |
| Appears in Collections: | Agroteknologi |
Files in This Item:
| File | Description | Size | Format | |
|---|---|---|---|---|
| Cover, Bibliography.pdf | Cover, Bibliography | 1.92 MB | Adobe PDF | View/Open |
| Abstract.pdf | Abstract | 17.14 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter I,II.pdf | Chapter I,II | 374.81 kB | Adobe PDF | View/Open |
| Chapter III,IV,V.pdf Restricted Access | Chapter III,IV,V | 2.26 MB | Adobe PDF | View/Open Request a copy |
Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.