<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/55</link>
    <description />
    <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 06:43:27 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-29T06:43:27Z</dc:date>
    <item>
      <title>ANALISA VARIASI KECEPATAN BLOWER TERHADAP PENINGKATAN TEMPERATUR SPRAY TOWER PADA PROSES BEADING PLANT DI PT. PHPO KIM</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5559</link>
      <description>Title: ANALISA VARIASI KECEPATAN BLOWER TERHADAP PENINGKATAN TEMPERATUR SPRAY TOWER PADA PROSES BEADING PLANT DI PT. PHPO KIM
Authors: SYAHDANA, ZJUAN
Abstract: Proses beading merupakan salah satu tahapan penting dalam industri kimia, khususnya &#xD;
pada pembuatan produk berbentuk butiran (bead) seperti deterjen dan pupuk. Salah &#xD;
satu komponen vital dalam proses ini adalah spray tower, yang berfungsi sebagai media &#xD;
untuk mengubah cairan menjadi butiran padat melalui pengeringan cepat. Temperatur &#xD;
di dalam spray tower menjadi faktor krusial yang memengaruhi tingkat pengeringan &#xD;
dan kualitas produk akhir, di mana salah satu faktor penentunya adalah kecepatan &#xD;
blower sebagai pemasok udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh &#xD;
variasi kecepatan blower terhadap perubahan temperatur pada berbagai titik (bawah, &#xD;
tengah, dan atas) di dalam spray tower. Metode yang digunakan adalah eksperimen &#xD;
langsung di pabrik beading plant dengan variasi kecepatan blower 800 rpm, 1000 rpm, &#xD;
1200 rpm, dan 1400 rpm. Pengukuran temperatur dilakukan pada tiga titik dan &#xD;
dianalisis secara kuantitatif dengan bantuan grafik untuk melihat tren perubahan. Hasil &#xD;
pengujian menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan blower cenderung menurunkan &#xD;
temperatur di dalam tower akibat meningkatnya laju aliran udara yang mempercepat &#xD;
kontak dengan sistem pendingin. Temperatur tertinggi tercatat sebesar 36,8°C pada &#xD;
bagian bawah tower, pada bagian tengah tercatat sebesar 37,2°C dan pada bagian atas &#xD;
tercatat sebesar 37,4°C pada kecepatan 800 rpm, sedangkan temperatur terendah &#xD;
tercatat sebesar 35,8°C pada bagian bawah tower, pada bagian tengah tercatat sebesar &#xD;
36,1°C dan pada bagian atas tercatat sebesar 36,2°C pada kecepatan 1400 rpm. dengan &#xD;
demikian, kecepatan 1400 rpm adalah kecepatan yang paling di rekomendasikan dalam &#xD;
menghasilkan distribusi temperatur paling stabil yang berkaitan langsung dengan nilai &#xD;
efisiensi yang didapat sebesar 90,19%, sehingga dapat mengoptimalkan proses &#xD;
pengeringan beads.&#xD;
Kata kunci: Proses beading, spray tower, blower, kecepatan aliran udara, temperatur.</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5559</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>ANALISA KEHILANGAN PANAS YANG TERJADI PADA MESIN  PEREBUSAN KELAPA SAWIT (STERILIZER) DENGAN  KAPASITAS 60 TON/JAM PADA PKS ASAM JAWA  DI LABUHAN BATU SELATAN</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5558</link>
      <description>Title: ANALISA KEHILANGAN PANAS YANG TERJADI PADA MESIN  PEREBUSAN KELAPA SAWIT (STERILIZER) DENGAN  KAPASITAS 60 TON/JAM PADA PKS ASAM JAWA  DI LABUHAN BATU SELATAN
Authors: TARIGAN, YUNUS WILIA
Abstract: Pabrik kelapa sawit merupakan industri yang mengolah tandan buah segar (TBS) &#xD;
menjadi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan inti sawit (kernel). &#xD;
Salah satu tahap penting dalam proses pengolahan ini adalah perebusan &#xD;
menggunakan mesin sterilizer, yang berfungsi untuk melunakkan buah, &#xD;
memudahkan proses pemipilan, serta menonaktifkan enzim lipase yang dapat &#xD;
meningkatkan kadar asam lemak bebas (FFA). Proses perebusan membutuhkan &#xD;
energi panas yang cukup besar, sehingga kehilangan panas (heat loss) perlu &#xD;
dianalisis agar efisiensi energi dapat ditingkatkan. Penelitian ini dilakukan di Pabrik &#xD;
Kelapa Sawit (PKS) Asam Jawa, Labuhan Batu Selatan, dengan tujuan untuk &#xD;
menganalisis kehilangan panas yang terjadi pada mesin sterilizer serta menentukan &#xD;
efisiensi termal sistem perebusan. Metode penelitian di lapangan secara &#xD;
eksperimental yang mana data di proleh dalam pengamatan di lapangan dan analisa &#xD;
melalui persamaan. Alat pendukung untuk mendapatkan data di lapangan adalah &#xD;
thermo gun dan mano meter . Hasil perhitungan menunjukkan bahwa efisiensi &#xD;
termal pada proses perebusan mengalami peningkatan pada setiap kegiatan &#xD;
penelitian, yaitu sebesar 1,61%, 6,79%, 11,36%, dan 16,97% secara berturut-turut. &#xD;
Peningkatan efisiensi ini dipengaruhi oleh kondisi tekanan dan suhu uap yang &#xD;
semakin stabil serta penurunan kehilangan panas dari dinding sterilizer ke &#xD;
lingkungan. Semakin kecil kehilangan panas yang terjadi, semakin besar energi &#xD;
yang termanfaatkan untuk proses perebusan buah sawit. Kesimpulan dari penelitian &#xD;
ini adalah bahwa pengendalian suhu, tekanan uap, serta isolasi termal pada dinding &#xD;
sterilizer memiliki peranan penting dalam mengurangi kehilangan panas dan &#xD;
meningkatkan efisiensi termal sistem. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi &#xD;
acuan bagi pihak pabrik dalam meningkatkan kinerja energi dan efisiensi proses &#xD;
perebusan pada unit sterilizer.&#xD;
Kata kunci: Sterilizer, kelapa sawit, kehilangan panas, efisiensi termal, perebusan.</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5558</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>ANALISIS MEDIA PENDINGIN PADA PROSES PENGELASAN SMAW MENGGUNAKAN KAWAT LAS E6013 DIAMETER 2.6 MM PADA MATERIAL BAJA G3101 TERHADAP KEKUATAN UJI TARIK</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5557</link>
      <description>Title: ANALISIS MEDIA PENDINGIN PADA PROSES PENGELASAN SMAW MENGGUNAKAN KAWAT LAS E6013 DIAMETER 2.6 MM PADA MATERIAL BAJA G3101 TERHADAP KEKUATAN UJI TARIK
Authors: KRISTIAN, STEPHANUS RAKA
Abstract: Proses pengelasan&#xD;
metode penyambungan logam yang banyak digunakan dalam industri karena&#xD;
Shielded Metal Arc Welding (SMAW) merupakan salah satu&#xD;
efisiensi, fleksibilitas, dan kekuatan sambungan yang dihasilkan. Namun, kualitas&#xD;
hasil las sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah media&#xD;
pendingin yang digunakan setelah proses pengelasan. Penelitian ini bertujuan&#xD;
untuk menganalisis pengaruh variasi media pendingin terhadap kekuatan tarik&#xD;
sambungan las pada material baja karbon rendah tipe G3101. Metode penelitian&#xD;
dilakukan dengan menggunakan kawat las E6013 diameter 2,6 mm dan variasi&#xD;
media pendingin berupa udara, air, serta oli. Setiap spesimen hasil las dilakukan&#xD;
pengujian tarik sesuai standar ASTM E8/E8M untuk mengetahui kekuatan tarik&#xD;
maksimum yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi media&#xD;
pendingin berpengaruh signifikan terhadap kekuatan tarik sambungan.&#xD;
Pendinginan menggunakan udara menghasilkan kekuatan tarik yang lebih stabil&#xD;
dengan deformasi plastis lebih baik dengan nilai tegangan luluh 290,00 N/mm²,&#xD;
tegangan tarik 368,33 N/mm² dan regangan 4,99%, sedangkan pendinginan&#xD;
menggunakan air meningkatkan kekerasan namun menurunkan sifat keuletan&#xD;
akibat pendinginan cepat yang memicu terbentuknya struktur martensit.Pada&#xD;
media pendingin air menghasilkan data tegangan luluh dengan nilai 293,33&#xD;
N/mm², tegangan tarik 394,44 N/mm² dan regangan 15,26%. Media pendingin oli&#xD;
menghasilkan nilai tarik menengah dengan kombinasi sifat kekerasan dan&#xD;
keuletan yang relatif seimbang yaitu dengan nilai tegangan luluh 282,78N/mm²,&#xD;
tegangan tarik 370,56 N/mm² dan regangan 16,58%. Dapat disimpulkan bahwa&#xD;
pemilihan media pendingin berperan penting dalam menentukan kualitas mekanik&#xD;
hasil las SMAW pada baja G3101. Pendinginan udara direkomendasikan untuk&#xD;
aplikasi yang membutuhkan keuletan tinggi, sedangkan pendinginan oli dapat&#xD;
menjadi alternatif untuk kebutuhan sifat mekanik yang seimbang.&#xD;
Kata Kunci: SMAW, Baja SS400, Media Pendingin, Kekuatan Tarik, E6013</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5557</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>ANALISA HEAT LOSS DAN EFISIENSI ENERGI PADA SISTEM  DUCTING SAAT PROSES PRODUKSI PENTRANSFERAN  UDARA PANAS DARI UNIT HEATER KE UNIT DRYER</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5556</link>
      <description>Title: ANALISA HEAT LOSS DAN EFISIENSI ENERGI PADA SISTEM  DUCTING SAAT PROSES PRODUKSI PENTRANSFERAN  UDARA PANAS DARI UNIT HEATER KE UNIT DRYER
Authors: SORMIN, SAMUEL
Abstract: Penelitian ini menganalisis kehilangan panas (heat loss) dan efisiensi energi pada &#xD;
sistem ducting yang mentransfer udara panas dari unit heater menuju unit dryer pada pabrik &#xD;
karet PT. London Sumatera Tbk. Unit heater yang digunakan adalah Blaze 125 (tahun 2007) &#xD;
dengan bahan bakar palm shell, sedangkan ducting terbuat dari baja karbon berdiameter &#xD;
dalam 0,798 m, panjang 18,7 m, serta dilapisi isolasi glasswool setebal ±2 cm dengan plat &#xD;
aluminium sebagai pelindung. Suhu udara masuk ke ducting sebesar 150 °C, suhu lingkungan &#xD;
30 °C, sedangkan suhu udara keluar menuju dryer sebesar 120 °C dengan kecepatan aliran &#xD;
13,94 m/s.Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi kehilangan panas melalui mekanisme &#xD;
konduksi pada dinding baja karbon, konduksi pada lapisan isolasi glasswool, serta konveksi &#xD;
dan radiasi dari permukaan aluminium ke lingkungan. Total kehilangan panas yang terhitung &#xD;
mencapai ±12–15% dari total energi panas yang dihasilkan heater. Berdasarkan kondisi &#xD;
operasi, efisiensi perpindahan energi dari heater ke dryer berkisar antara 85–88%. &#xD;
Temperatur permukaan luar ducting (plat aluminium) yang terukur sebesar 64 °C &#xD;
menunjukkan bahwa isolasi glasswool masih berfungsi, tetapi belum optimal dalam menekan &#xD;
kehilangan panas.Rekomendasi teknis yang diajukan meliputi peningkatan ketebalan isolasi &#xD;
hingga 40 mm atau penggantian material isolasi dengan konduktivitas termal lebih rendah &#xD;
(misalnya polyurethane atau PIR), serta optimalisasi desain jalur ducting. Dengan perbaikan &#xD;
tersebut, potensi peningkatan efisiensi energi sistem dapat mencapai lebih dari 90%, &#xD;
sekaligus menurunkan biaya bahan bakar dan meningkatkan kualitas proses pengeringan &#xD;
karet&#xD;
Kata kunci : Heat loss, efisiensi energi, ducting, isolasi termal, glasswool, pabrik karet, &#xD;
 pengeringan</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5556</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

