<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/51</link>
    <description />
    <pubDate>Tue, 28 Apr 2026 00:15:26 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-28T00:15:26Z</dc:date>
    <item>
      <title>PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI BIBIT KARET (Hevea brasiliensis Mull. Agr.) DI DALAM POLYBAG</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5132</link>
      <description>Title: PENGARUH TINGKAT PEMBERIAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI BIBIT KARET (Hevea brasiliensis Mull. Agr.) DI DALAM POLYBAG
Authors: SIREGAR, ZIKRI AFDINAL
Abstract: Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian&#xD;
Universitas Islam Sumatera Utara, Jln. Karya Wisata, Kecamatan Medan Johor,&#xD;
Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, Ketinggian tempat ± 25m dpl, dengan&#xD;
topografi datar dengan jenis tanah ordo Inceptisol. Penelitian ini telah dilakukan&#xD;
pada bulan Januari sampai Mei 2024.&#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian air&#xD;
terhadap pertumbuhan semai bibit karet di dalam polybag. Untuk mengetahui&#xD;
pertumbuhan semaian bibit karet di dalam polybag terhadap tingkat pemberian air.&#xD;
Untuk mengetahui interaksi dari tingkat pemberian air terhadap pertumbuhan.&#xD;
Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terpisah (RPT) dalam Rancangan&#xD;
Acak Kelompok (RAK) Faktorial. Faktor pertama sebagai petak utama adalah&#xD;
klon (K) yakni: K1 = Klon PB 260 (Quick Starter); K2 = Klon GT 1 (Slow Starter).&#xD;
Faktor kedua tingkat pemberian air (P) yakni: P1 = 360 mL/polybag; P2 = 720&#xD;
mL/polybag; P3 =1080 mL/polybag; P4 = 1500 mL/polybag. Variabel pengamatan&#xD;
terdiri dari tinggi bibit, diameter batang, luas daun, panjang akar, dan kerapatan&#xD;
stomata.&#xD;
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pemberian air&#xD;
berpengaruh kecil terhadap pertumbuhan semai bibit karet di dalam polybag.&#xD;
Perlakuan terbaik terdapat pada tingkat pemberian air 720 mL/polybag (P2).&#xD;
Semaian bibit karet di polybag berpengaruh besar terhadap pertumbuhan semai&#xD;
bibit karet di dalam polybag. Semaian bibit karet klon PB 260 (Quick Starter)&#xD;
(K1) menunjukkan hasil terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan semai bibit&#xD;
karet. Interaksi dari tingkat pemberian air dengan semaian bibit karet memberikan&#xD;
pengaruh besar terhadap pertumbuhan semai bibit karet di dalam polybag terdapat pada&#xD;
K1P2, yaitu klon PB 260 (Quick Starter) dengan tingkat pemberian air 720 mL/polybag.&#xD;
Kata Kunci : Air, Tingkat pemberian air, Pertumbuhan, Bibit karet, Klon, PB&#xD;
260 dan GT 1.</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5132</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PEMANFAATAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN PESTISIDA URIN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN KETAHANAN TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata) PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5130</link>
      <description>Title: PEMANFAATAN PUPUK KANDANG KAMBING DAN PESTISIDA URIN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI DAN KETAHANAN TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata) PADA SISTEM PERTANIAN ORGANIK
Authors: MAULANA, YONGGI
Abstract: Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian&#xD;
Universitas Islam Sumatra Utara, yang terletak di Jl. Karya Wisata, Gedung Johor,&#xD;
Kecamatan Medan Johor, Kota Medan, dengan ketinggian tempat sekitar 25 mdpl.&#xD;
Penelitian ini berlangsung mulai bulan Juli hingga September 2024.&#xD;
Penelitian ini dibimbing oleh Bapak Dr. Ir. Diapari Siregar, M.P. selaku&#xD;
Ketua Komisi Pembimbing dan Ibu Dr.Syamsafitri, S.P., M.P. selaku Anggota&#xD;
Komisi Pembimbing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk&#xD;
kandang kambing terhadap pertumbuhan, produksi dan ketahanan tanaman jagung&#xD;
manis pada sistem pertanian organik. Mengetahui pengaruh pestisida urine kambing&#xD;
terhadap pertumbuhan, produksi dan ketahanan tanaman jagung manis pada sistem&#xD;
pertanian organik. Mengetahui interaksi antara pupuk kandang kambing dan&#xD;
pestisida urine kambing terhadap pertumbuhan, produksi dan ketahanan tanaman&#xD;
jagung manis pada sistem pertanian organik. Penelitian ini menggunakan&#xD;
Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, yang terdiri dari dua faktor perlakuan&#xD;
yaitu sebagai berikut: Faktor pertama pupuk kandang kambing (K) yang terdiri dari&#xD;
3 taraf yakni: K0 = Kontrol (tanpa pupuk kandang kambing); K1 = 10 ton / ha (2,25&#xD;
kg/plot); K2 = 20 ton / ha (4,5 kg/plot). Faktor kedua Pestisida urine kambing (U)&#xD;
yang terdiri dari 3 taraf yakni: U0 = Kontrol (tanpa pestisda urin kambing); U1 =&#xD;
Pestisida urin kambing 180 ml/1 liter air/plot; U2 = Pestisida urin kambing 360 ml//1&#xD;
liter air/plot. Variabel yang diamati meliputi daya berkecambah benih, tinggi&#xD;
tanaman, jumlah daun. diameter batang, bobot tongkol berkelobot per sampel,&#xD;
bobot tongkol tanpa kelobot per sampel, intensitas penyakit bulai serta inventarisasi&#xD;
hama dan penyakit.&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang kambing&#xD;
berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang,&#xD;
bobot tongkol berkelobot per sampel, bobot tongkol tanpa kelobot per sampel dan&#xD;
intensitas penyakit bulai. Tetapi tidak berpengaruh terhadap perkecambahan benih.&#xD;
Perlakuan terbaik terdapat pada K2 (pupuk kandang kambing 4,5 kg/plot). Aplikasi&#xD;
pesisida urine kambing hanya berpengaruh terhadap intensitas penyakit bulai.&#xD;
Tetapi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan perkecambahan benih, tinggi&#xD;
tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot tongkol berkelobot per sampel dan&#xD;
bobot tongkol tanpa kelobot per sampel. Perlakuan terbaik terdapat pada U2&#xD;
(pestisida urine kambing 360 ml/1 liter air/plot). Interaksi dari kedua perlakuan&#xD;
tidak berpengaruh nyata terhadap semua variabel yang diamatin. Hama dan&#xD;
penyakit yang dominan di temukan selama penelitian adalah hama ulat grayak&#xD;
(Spodoptera frugiperda) dan penyakit hawar daun atau cendawan&#xD;
(Helminthosporium maydis).&#xD;
Kata Kunci : Ketahanan, Organik, Pertumbuhan, Produksi dan Tanaman.</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5130</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>RESPON TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP VARIASI JARAK TANAM DAN PUPUK KOMPOS KOTORAN AYAM PADA TANAH INCEPTISOL</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5128</link>
      <description>Title: RESPON TANAMAN KEDELAI (Glycine max L.) TERHADAP VARIASI JARAK TANAM DAN PUPUK KOMPOS KOTORAN AYAM PADA TANAH INCEPTISOL
Authors: SITUMEANG, SURYADI ALAMSYAH
Abstract: Penelitian ini dilakukan di Kebun percobaan Fakultas Pertanian UISU,&#xD;
Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor, Kota Madya Medan, Provinsi&#xD;
Sumatera Utara dengan ketinggian ± 25 m dpl dengan topografi datar. Penelitian&#xD;
ini di bimbing oleh Ibu Ir.Rahmawati, MP sebagai ketua dan Ibu . Ir.Mindalisma,&#xD;
MM., sebagai anggota. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari Respon&#xD;
Tanaman Kedelai (Glycine Max L.) Terhadap Variasi Jarak Tanam Dan Pupuk&#xD;
Kompos Kotoran Ayam Pada Tanah Inceptisol&#xD;
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial&#xD;
dengan dua faktor yang diteliti yaitu : 1. Faktor pertama adalah Kompos Kotoran&#xD;
Ayam (K) terdiri dari 4 taraf perlakuan, yaitu :K0 = Kontrol, K1 = 1 kg/plot, K2&#xD;
= 2 kg/plot, K3 = 3 kg/plot. 2. Faktor kedua adalah Variasi Jarak Tanam (J) yang&#xD;
terdiri dari 3 taraf perlakuan, yaitu :J1 = 40 x 15 cm, J2= 40 x 20 cm, J3= 40 x 25&#xD;
cm. Parameter yang diamati adalah Tinggi Tanaman, Jumlah Cabang Produktif,&#xD;
Jumlah Polong Per Sampel, Bobot Polong Per Plot dan Bobot Kering 100 Butir .&#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Kompos Kotoran Ayam&#xD;
berpengaruh nyata terhadap Jumlah cabang, Jumlah Polong, Bobot polong , bobot&#xD;
100 butir dan tidak berpengaruh nyata tinggi tanaman kedelai, bobot polong per&#xD;
plot dan bobot kering 100 biji, namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah&#xD;
cabang produktif dan jumlah polong per sampel. Pada perlakuan Variasi Jarak&#xD;
Tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman kedelai, bobot polong per plot&#xD;
dan bobot kering 100 biji namun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang&#xD;
produktif dan jumlah polong per sampel. interaksi perlakuan kedua perlakuan tidak&#xD;
berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati.&#xD;
Kata Kunci : Kompos Kotoran Ayam, Variasi Jarak Tanam, Inceptisol</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5128</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>MEMBANDINGKAN APLIKASI PEMBERIAN SEKAM BAKAR PADA BIBIT TANAMAN KARET KLON QUICK STARTER (PB 260) DAN KLON SLOW STARTER (GT1) PADA MUSIM KERING</title>
      <link>http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5126</link>
      <description>Title: MEMBANDINGKAN APLIKASI PEMBERIAN SEKAM BAKAR PADA BIBIT TANAMAN KARET KLON QUICK STARTER (PB 260) DAN KLON SLOW STARTER (GT1) PADA MUSIM KERING
Authors: SIREGAR, RIFQI ANSARI
Abstract: Permasalahan saat ini adalah pemanasan global yang menyebabkan&#xD;
perubahan iklim antara lain kenaikkan suhu yang berakibat terjadinya kekurangan&#xD;
air yang menghambat pertumbuhan bibit dan berpengaruh terhadap lamanya masa&#xD;
sadap. Salah satu upaya mengatasi kekurangan air pada media tanam tersebut dapat&#xD;
dilakukan dengan memberikan sekam bakar baik sebagai mulsa maupun campuran&#xD;
media tanam. Sekam bakar mempunyai keunggulan yaitu dapat mengikat air dan&#xD;
menyediakan unsur hara Si dan K yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman&#xD;
terhadap cekaman kekeringan.&#xD;
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) karakter pertumbuhan bibit&#xD;
karet klon Quick Starter (PB 260) dan Slow Starter (GT1) pada kondisi cekaman&#xD;
kekeringan; (2) pengaruh cara aplikasi sekam bakar terhadap karakter pertumbuhan&#xD;
bibit karet klon Quick Starter (PB 260) dan Slow Starter (GT 1) pada kondisi&#xD;
cekaman kekeringan; (3) kombinasi antara kedua perlakuan terhadap karakter&#xD;
pertumbuhan bibit karet. Penelitian dilaksanakan di lahan Percobaan Fakultas&#xD;
Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara, MedanKetinggian tempat ± 25m dpl,&#xD;
dengan topografi datar dengan jenis tanah ordo Inceptisol. Penelitian dimulai pada&#xD;
bulan November 2023 sampai April 2025. Penelitian menggunakan Rancangan&#xD;
Petak Terpisah (RPT) dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dua&#xD;
faktor perlakuan yang disusun dalam tiga ulangan. Faktor pertama sebagai petak&#xD;
utama adalah Klon (K) yang terdiri dari dua taraf, yaitu Klon PB 260 (K1), Klon&#xD;
GT 1 (K2). Faktor kedua sebagai anak petak adalah Cara Aplikasi sekam Bakar (A)&#xD;
yang terdiri dari tiga taraf, yaitu tanpa sekam bakar (A0), sekam bakar sebagai&#xD;
mulsa (A1), sekam bakar sebagai media tanam (A2).&#xD;
Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil penelitian&#xD;
lainnya yang melaporkan bahwa klon PB 260 merupakan klon peka terhadap&#xD;
kekeringan yang ditandai dengan gugurnya daun terlebih dahulu dibandingkan&#xD;
dengan klon GT 1 pada saat musim kering. Namun, dari hasil penelitian ini&#xD;
ditemukan bahwa klon PB 260 merupakan klon tahan terhadap kekeringan yang&#xD;
ditunjukkan dengan sistem perakarannya yang lebih besar dan terdistribusi secara&#xD;
merata dengan jumlah akar lateral yang lebih banyak dibandingkan dengan klon GT&#xD;
1.&#xD;
Cara aplikasi sekam bakar, baik sebagai mulsa maupun media tanam&#xD;
mampu meningkatkan ketahanan bibit karet terhadap cekaman kekeringan yang&#xD;
ditunjukkan dengan sistem perakaran yang lebih baik dibandingkan dengan&#xD;
perlakuan tanpa sekam bakar. Walaupun aplikasi sekam bakar sebagai mulsa dan&#xD;
media tanam lebih banyak yang tidak berbeda nyata, tetapi secara data terlihat&#xD;
bahwa aplikasi sekam bakar sebagai mulsa (A1) lebih baik dibandingkan alikasi&#xD;
sekam bakar sebagai media tanam (A2).&#xD;
Kombinasi antara kedua perlakuan yang menunjukkan ketahanan bibit karet&#xD;
terhadap cekaman kekeringan adalah kombinasi perlakuan klon PB 260 (K1)&#xD;
dengan aplikasi sekam bakar sebagai mulsa (A1) dan media tanam (A2). Demikian&#xD;
pula kombinasi perlakuan klon GT 1 (K2) dengan aplikasi sekam bakar sebagai&#xD;
mulsa (A1) dan media tanam (A2).&#xD;
Kata Kunci: Sekam bakar, mulsa, media tanam, PB 260, GT 1</description>
      <pubDate>Fri, 20 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.uisu.ac.id/handle/123456789/5126</guid>
      <dc:date>2026-02-20T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

